Batubara Graha http://batubara-graha.com JUAL DAN SEDIA BATUBARA BERBAGAI KALORI DAN UKURAN JUAL DAN SEDIA BATUBARA JUAL BATUBARA UNTUK RETAIL DAN KONTRAK JUAL BATUBARA UNTUK PASAR LOKAL DAN PASAR INTERNASIONAL JUAL BATUBARA UNTUK KEBUTUHAN PABRIK JUAL DAN SEDIA BATUBARA DARI BERBAGAI KALORI Sun, 5 Sep 2010 23:45:11 +0700 CMS KOMA v1.00 id http://batubara-graha.com http://batubara-graha.com/images/logo.gif Batubara Graha BATUBARA http://batubara-graha.com/?pg=articles&article=14492 http://batubara-graha.com/?pg=articles&article=14492 Sun, 22 Nov 2009 22:24:57 +0700 Indra Hendrawan, SE bisnis http://batubara-graha.com/?pg=articles&article=14492

Batubara adalah batuan yang mudah terbakar yang lebih dari 50% -70% berat volumenya merupakan bahan organik yang merupakan material karbonan termasuk inherent moisture . Bahan organik utamanya yaitu tumbuhan yang dapat berupa jejak kulit pohon, daun, akar, struktur kayu, spora, polen, damar, dan lain-lain. Selanjutnya bahan organik tersebut mengalami berbagai tingkat pembusukan (dekomposisi) sehingga menyebabkan perubahan sifat-sifat fisik maupun kimia baik sebelum ataupun sesudah tertutup oleh endapan lainnya.

Proses pembentukan batubara terdiri dari dua tahap yaitu tahap biokimia (penggambutan) dan tahap geokimia (pembatubaraan).

peatification                             coalification

Endapan          organik            Gambut           Batubara

Biokimia                                  geokimia

Tahap penggambutan (peatification) adalah tahap dimana sisa-sisa tumbuhan yang terakumulasi tersimpan dalam kondisi reduksi di daerah rawa dengan sistem pengeringan yang buruk dan selalu tergenang air pada kedalaman 0,5 – 10 meter. Material tumbuhan yang busuk ini melepaskan H, N, O, dan C dalam bentuk senyawa CO2, H2O, dan NH3 untuk menjadi humus. Selanjutnya oleh bakteri anaerobik dan fungi diubah menjadi gambut (Stach, 1982, op cit Susilawati 1992).

Tahap pembatubaraan (coalification) merupakan gabungan proses biologi, kimia, dan fisika yang terjadi karena pengaruh pembebanan dari sedimen yang menutupinya, temperatur, tekanan, dan waktu terhadap komponen organik dari gambut (Stach, 1982, op cit Susilawati 1992). Pada tahap ini prosentase karbon akan meningkat, sedangkan prosentase hidrogen dan oksigen akan berkurang (Fischer, 1927, op cit Susilawati 1992). Proses ini akan menghasilkan batubara dalam berbagai tingkat kematangan material organiknya mulai dari lignit, sub bituminus, bituminus, semi antrasit, antrasit, hingga meta antrasit.

]]>
http://batubara-graha.com/rss-comments/
GAS DAN BATUBARA KITA UNTUK SIAPA????? http://batubara-graha.com/?pg=articles&article=15246 http://batubara-graha.com/?pg=articles&article=15246 Sun, 22 Nov 2009 22:24:48 +0700 Indra Hendrawan, SE http://batubara-graha.com/?pg=articles&article=15246 Negara yang memiliki kandungan sumber daya energi yang besar, identik dengan kemakmuran. Logikanya sederhana, kekayaan alam tersebut akan menggerakkan pertumbuhan ekonomi. Harga produk industri menjadi lebih kompetitif di pasar internasional karena input energi yang murah dan berlimpah. Pembangunan berbagai infrastruktur akan berjalan pesat dan pengentasan kemiskinan dapat terwujud karena ditopang devisa dari hasil penjualan kekayaan alam dan produk industri. Masyarakat akan dengan mudah mendapatkan akses pendidikan dan kesehatan yang mamadai. Hasilnya, sumber daya manusia berkualitas yang dihasilkan akan semakin memperkuat daya saing internasional dan kemandirian negara tersebut.

Namun rupanya tidak semua negara penghasil sumber daya alam energi mengikuti alur seperti itu. Dengan kekayaan alam yang berlimpah, beberapa negara justeru mengalami kemunduran ekonomi dan daya saing. Nigeria adalah salah satu contoh klasik sebuah negara kaya minyak yang justeru mengalami pertumbuhan ekonomi negatif selama beberapa dekade. Inilah yang disebut oleh kalangan ekonom sebagai “the resource curse ” atau “the paradox of plenty “, dimana kekayaan alam yang berlimpah tidak memberikan berkah tetapi justeru membawa bencana. Nasib Indonesia yang juga memiliki kekayaan sumber energi memang tidak semalang Nigeria, namun juga tidak bisa dikatakan berhasil dibandingkan beberapa negara berkembang di kawasan Asia yang justeru relatif miskin sumber daya alam. Salah satu penjelasan tesis “the resource curse ” adalah terabaikannya sektor industri dan pertanian karena pemerintah terbuai untuk mengandalkan devisa dari penjualan kekayaan alam. Gambaran pengelolaan produksi gas alam dan batubara di negeri kita sedikit banyak menjadi bukti pembenaran atas tesis tersebut.

Gas alam

Indonesia memiliki cadangan gas alam sebesar 2.8 triliun meter kubik (97 triliun kaki kubik) pada akhir 2005, yang setara dengan 1.5 persen cadangan dunia. Jumlah tersebut sebenarnya tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan produsen gas alam yang lain. Rusia, misalnya, memiliki cadangan gas alam sebesar 48 triliun meter kubik. Iran dan Qatar masing-masing memiliki sekitar 27 dan 26 triliun meter kubik.

Namun lebih kecil cadangan bukan berarti lebih sedikit dalam volume ekspor. Selama beberapa tahun Indonesia justeru tercatat sebagai eksportir gas alam terbesar di dunia. Pada tahun 2005, produksi gas alam Indonesia tercatat sebesar 75 milyar meter kubik, hampir separuhnya (36 milyar meter kubik) diekspor. Sisanya sekitar 39 Milyar meter kubik digunakan untuk konsumsi dalam negeri. Sebagai perbandingan, negeri jiran Malaysia memiliki konsumsi gas alam yang hampir sama, dengan jumlah penduduk yang hanya sepersepuluh penduduk Indonesia.

Gas alam merupakan input yang sangat vital dalam berbagai industri, diantaranya: industri logam, kimia, pulp dan kertas. Di dalam bidang pembangkitan listrik, gas alam digunakan sebagai bahan bakar PLTG dan PLTGU. Waktu konstruksi yang singkat dan respon pengoperasian yang cepat menjadikan PLTG sebagai pembangkit listrik yang ideal untuk memenuhi kebutuhan beban puncak. Sementara, efisiensi gas ke listrik yang sangat tinggi menempatkan PLTGU sebagai pembangkit yang paling kompetitif diantara alternatif pembangkit termal yang lain. Di sisi lain, sifat gas alam yang lebih ramah lingkungan dibandingkan sumber energi fosil yang lain menjadikannya sebagai sumber energi andalan untuk saat ini dan waktu-waktu yang akan datang.

Melihat potensi dan manfaat gas alam tersebut mestinya pemenuhan kebutuhan dalam negeri menjadi prioritas. Namun kenyataanya justeru sebaliknya, setiap hari kebutuhan gas alam dalam negeri mengalami defisit sebesar 0,3 milyar kaki kubik (Tempo Interaktif, 5 Maret 2007). Defisit gas sebenarnya sudah mulai dirasakan kalangan industri sejak tahun 2005 namun kondisinya semakin parah akhir-akhir ini. Keadaan diperburuk dengan kondisi infrastruktur gas di Indonesia yang juga jauh dari memadai. Gas alam dari ladang-ladang gas tidak bisa dialirkan ke industri-industri yang membutuhkan karena ketiadaan pipa transmisi dan distribusi.

Akibatnya, banyak industri yang mengandalkan gas alam harus kelimpungan bahkan terancam gulung tikar (Kompas, 11 Mei 2007). Sebagian yang lain berencana untuk hengkang dari Indonesia (Pikiran Rakyat, 7 Maret 2007). Beberapa pembangkit listrik tenaga gas juga terpaksa harus beralih ke BBM sehingga berakibat pada lonjakan biaya pembangkitan. Pabrik-pabrik pupuk pun berhenti beroperasi karena kurangnya pasokan gas. Singkat kata, industri-industri tersebut dapat diibaratkan seperti tikus mati di lumbung padi.

Anehnya, di tengah defisit suplai gas dalam negeri dan keterbatasan cadangan, pemerintah justeru bertekad mempertahankan posisinya sebagai ekportir LNG terbesar di dunia (Kompas, 17 Januari 2007). Yang lebih ironis, belum lama ini Wapres Jusuf Kalla justeru menyatakan bahwa untuk mempertahankan kepentingan ekspor LNG ke Jepang dan Korea maka konsumsi gas dalam negeri harus ditekan serta menggantinya dengan batubara (Bisnis Indonesia, 4 Mei 2007). Ini jelas membuktikan bahwa pemerintah masih melihat gas alam semata-mata sebagai komoditi ketimbang sebagai aset pembangunan industri dan pemberdayaan ekonomi nasional.

Batubara

Obral sumber daya energi tidak hanya terjadi pada gas alam, tetapi juga batubara. Sepanjang tahun 2005-2006, Indonesia menjadi negara pengekspor batubara terbesar di dunia. Ekspor tersebut mampu menutup 25 persen permintaan pasar batubara dunia (TEMPO Interaktif, 6 Mei 2007). Ironisnya, konsumsi batubara perkapita Indonesia justeru termasuk yang terendah diantara negara-negara produsen batubara. Bahkan konsumsi batubara perkapita Indonesia hanya separuh dari Malaysia dan Thailand, padahal keduanya tergolong miskin cadangan batubara.

Jumlah cadangan terbukti batubara Indonesia sebenarnya tidak istimewa, kurang lebih 12 milyar ton (DJLPE, 2007). Dari lima besar negara ekportir batubara, Indonesia adalah yang paling sedikit memiliki cadangan terbukti. Jumlah cadangan sebesar itu relatif tidak signifikan jika dibandingkan dengan cadangan Rusia yang besarnya mencapai 157 milyar ton atau China sebesar 114 milyar ton. Di dunia, cadangan batubara Indonesia hanya menempati urutan ke 13 dengan jumlah setara dengan 1,3 persen seluruh cadangan batubara dunia.

Negara-negara besar yang memiliki produksi batubara besar umumnya memprioritaskan pemakaian batubara untuk kebutuhan domestik. Amerika Serikat dan China, misalnya, memanfaatkan lebih dari 95 persen produksi batubara mereka untuk konsumsi domestik. India bahkan memanfaatkan seluruh batubara mereka untuk konsumsi dalam negeri. Kondisi serupa juga terjadi di Rusia, Polandia dan Afrika Selatan, dimana lebih dari 70 persen produksi digunakan untuk konsumsi dalam negeri. Sementara di Indonesia kondisnya sangat bertolak belakang, 75 persen batubara justeru diarahkan untuk tujuan ekspor.

Peranan penting batubara tidak bisa dilepaskan dari sejarah industrialisasi umat manusia. Tersedianya batubara yang melipah di negara-negara Eropa telah menghantarkan mereka memasuki era industrialisasi dan kemakmuran seperti sekarang ini.

Di Amerika, selama satu abad terakhir batubara telah menjadi penggerak ekonomi negara tersebut dengan menyediakan lebih dari separuh kebutuhan listrik mereka. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga beberapa tahun yang akan datang, Laporan yang disusun oleh Pennsylvania State University menegaskan bahwa pemanfaatan sumber daya batubara di negera tersebut untuk pembangkitan listrik diperkirakan akan menciptakan pemberdayaan ekonomi pada jutaan usaha dan industri kecil serta rumah tangga dan membuka 6.8 juta lapangan kerja baru [Rose, 2006].

Dua raksasa ekonomi Asia, Cina dan India, juga memilih memanfaatkan sebagian besar batubaranya untuk keperluan domestik sebagai sumber energi pembangunan ekonomi ketimbang sebagai komoditi ekspor.

Di Korea, konsumi batubara terbukti memiliki pengaruh langsung terhadap pertumbuhan ekonomi. Konsekuensinya, hambatan pada konsumsi batubara akan berpotensi besar dalam menghambat pertumbuhan ekonomi Korea. Ini mendorong pemerintah Korea untuk meningkatkan jaminan pasokan batubatra untuk jangka panjang [Yoo, 2006].

Kenyataan serupa juga berlaku di negara-negara yang lain. Alasannya sangat jelas, selama ini batubara masih merupakan pilihan paling murah dan berlimpah dalam penyediaan energi untuk pembangunan ekonomi.

Berkaca dari pengalaman negara-negara tersebut Indonesia semestinya memanfaatkan sumber daya batubara yang dimilikinya untuk mendukung pembangunan industri. Tentu pemanfaatan batubara tersebut harus tetap mempertimbangkan aspek-aspek lingkungan dan keselamatan. Menjadikan batubara sebagai komoditi ekspor andalan adalah kebijakan yang keliru.

Penutup

Krisis pasokan gas serta rendahnya konsumsi gas dan batubara di tanah air pada saat Indonesia menjadi ekportir terbesar batubara dan gas dunia adalah gambaran kecil carut-marutnya pengelolaan sumber daya energi di negeri ini. Untuk itu paradigma bahwa sumber daya alam semata-mata sebagai komoditas perlu diubah. Gas alam, batubara dan sumber energi lainnya adalah aset pembangunan yang harus dilindungi ketersediaanya untuk menjamin keberlangsungan pembagunan dalam negeri. Jika pemerintah saat ini belum mampu mengelola sumber daya alam tersebut maka akan lebih baik jika kita percayakan generasi yang akan datang untuk mengelolanya secara lebih arif, bukan dengan mengobral untuk membantu pembangunan negara lain.

Catatan:

  1. Data statistik gas dan batubara diambil dari BP Statistical Review of World Energy 2006.
  2. A. Z. Rose dan D. W. Seung-Hoon Yoo, 2006. The Economic Impacts of Coal Utilization and Displacement in the Continental United States, 2015, Pennsylvania State University. July, 2006.
  3. S. Yoo, 2006, Causal relationship between coal consumption and economic growth in Korea, Jurnal Applied Energi, No. 83. 2006.
]]>
http://batubara-graha.com/rss-comments/
JAGOAN WEBHOSTING INDONESIA!!! http://batubara-graha.com/?pg=articles&article=15343 http://batubara-graha.com/?pg=articles&article=15343 Sun, 22 Nov 2009 22:24:19 +0700 Indra Hendrawan, SE http://batubara-graha.com/?pg=articles&article=15343
JAGOAN HOSTING DAN WEB DESIGN INDONESIA (SITEKNO WEBMATIC)

ONLY Rp. 330.000,- / year ( nett tanpa basa basi)
1.Hosting Space 225MB ( 25 halaman, 25 panel, 25 katagori, 25 custom form, 500 artikel, 100 ribu komentar)
2.Bandwitdh : UNLIMITED
3.Email : 50 email dengan nama website anda support by google
4.Jenis Domain : .com, .net, .biz, .org, .name, .info
5.Theme yang sangat banyak dan menarik sehingga anda tinggal isi contain dan gambar
6.Website langsung online saat itu juga (webmatic)

Fasilitas lainnya :
1. Training/kursus dan pelatihan gratis membuat website (web.design & web.programming) sampai anda mahir
2. Video Tutorial dan support informasi (buku panduan) yang bisa di download dari situsitus utama: www.sitekno.com atau www.sitekno911.com.
3. Pelatihan Hak usaha dengan potensi jutaan rupiah / hari
4. Program S-LINK (Website anda secara otomatis langsung di iklankan di lebih dari 2500 website setiap hari dalam setahun)

contact : iddc konsorsium
081320409989 (indra), 081573713371 (dendy), 085885522572 (dadank), 087885210808 (chandra)
Jl. Bengawan No.73 Telp : 022 76069558, Fax 022 7234263
Website : www.siteknoindonesia.com
email : konsorsium_iddc@siteknoind onesia.com

]]>
http://batubara-graha.com/rss-comments/
Proses Penambangan Batubara http://batubara-graha.com/?pg=articles&article=15251 http://batubara-graha.com/?pg=articles&article=15251 Sat, 21 Nov 2009 22:42:35 +0700 Indra Hendrawan, SE http://batubara-graha.com/?pg=articles&article=15251 Proses Penambangan Batubara

Perusahaan menggunakan metode penambangan terbuka untuk menggali batubara di semua area konsesi. Penambangan dalam masih dalam tahap kajian kelayakan.

Gambar berikut memperlihatkan operasi penambangan pada tambang PT Indominco Mandiri berikut dengan pengoperasian Terminal Batubara Bontang.

Coal Mining Process

]]>
http://batubara-graha.com/rss-comments/
JENIS-JENIS BEBATUAN KEKAYAAN ASLI INDONESIA http://batubara-graha.com/?pg=articles&article=15238 http://batubara-graha.com/?pg=articles&article=15238 Sat, 21 Nov 2009 21:58:06 +0700 Indra Hendrawan, SE http://batubara-graha.com/?pg=articles&article=15238 Jenis batuan yang unik

Ini foto batu bara. Jenis batuan ini sekarang yang membuat hati rakyat membara, mendidih dan geram karena tunggakan royalti termasuk bunganya yang harus dibayar menggunung juga kita mau dipermalukan di dunia Internasional juga lingkungan yang dirusak luar biasa.

batubara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ini seperti foto batu kapur. Konon batu kapur untuk membuat orang jadi pandai dan terpelajar

DSCF0627

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ini foto batu kecubung kasihan. Konon untuk membuat kekasih anda tergila gila

DSCF0601

]]>
http://batubara-graha.com/rss-comments/
Kenapa Harus Sitekno http://batubara-graha.com/?pg=articles&article=9005 http://batubara-graha.com/?pg=articles&article=9005 Mon, 28 Sep 2009 15:37:05 +0700 Indra Hendrawan, SE http://batubara-graha.com/?pg=articles&article=9005 PT SITEKNO hadir sebagai penyedia layanan pembuatan situs web dengan cara yang lebih mudah, murah dan menguntungkan.

Kenapa Mudah?
Karena proses membuat situs web di SITEKNO WEBMATIC memang sangat mudah, anda cukup membeli NOMOR SERI dan PIN keanggotan, lalu mengaktifkan keanggotaan anda pada situs utama www.sitekno.com. Hal pertama yang harus anda lakukan untuk mendapatkan situs web SITEKNO WEBMATIC adalah mencari Nama Domain yang akan anda gunakan melalui fasilitas www.sitekno.com. Nama domain adalah alamat situs web anda di internet contohnya www.sayapunyablogsitekno.com, setelah anda yakin dengan pilihan anda dan domain yang anda kehendaki masih tersedia, ikuti petunjuk aktivasi sampai selesai sampai situs web anda online saat itu juga dengan pilihan desain tampilan (tema/template) yang sudah tersedia untuk dipilih sesuai selera anda.

Kenapa Murah?
Anda cukup menyisihkan Rp 330.000,- per tahun, atau kurang dari Rp 1.000,- per hari untuk memiliki situs web dengan nama domain pilihan anda sendiri beserta fitur-fitur aplikasi web yang saat ini sudah cukup lengkap dan tentunya akan terus dikembangkan.
Jika anda masih merasa keberatan dengan biaya tersebut, anda dapat menjalankan bisnis jaringan SITEKNO WEBMATIC yang sangat menjanjikan, kalau bisnis tersebut dijalankan dengan benar dan sungguh-sungguh, anda tidak perlu lagi menyisihkan Rp 1.000,- per hari, sebaliknya anda bahkan akan mendapatkan Rp 10.000,- per hari, Rp 100.000,- per hari, atau Rp 1.000.000,- per hari ? tentukan penghasilan anda sendiri bersama SITEKNO WEBMATIC.

Kenapa Menguntungkan?
Disinilah perbedaan paling menonjol antara SITEKNO WEBMATIC dengan perusahan lain yang memberikan produk dan jasa yang serupa, selain memiliki situs web dengan nama domain sendiri menjadi mudah dan murah, begitu anda menjadi anggota anda akan mendapatkan hak usaha yang dapat anda tekuni dan jalankan berupa bisnis Referral Program yang produknya tidak lain adalah situs web itu sendiri, artinya anda akan memiliki Bisnis Online yang produknya berupa situs web yang bisa anda tawarkan kepada orang lain.

Untuk melihat skema penghasilan yang bisa anda dapatkan dengan menjalankan bisnis ini, silahkan lihat Marketing Plan SITEKNO WEBMATIC.]]>
http://batubara-graha.com/rss-comments/